Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara umum tidak menghadapi masalah di lapangan. Menurutnya, berbagai sorotan dan kritik yang berkembang belakangan ini lebih banyak terlihat di media sosial dibandingkan kondisi nyata yang terjadi di masyarakat.
Dalam sebuah pernyataan yang beredar di media sosial, Sudaryono menyebut bahwa ramainya perbincangan mengenai MBG dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk aspek ideologis dan politik. Ia mengatakan bahwa kritik terhadap program tersebut banyak datang dari sejumlah pihak seperti guru, orang tua siswa, wartawan, hingga oknum lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Meski demikian, Sudaryono menegaskan bahwa masyarakat penerima manfaat pada umumnya tidak mempermasalahkan program MBG. Ia menilai persepsi negatif yang muncul sering kali lebih dominan berkembang di ruang digital dibandingkan di lapangan.
Selain sorotan dari luar, Sudaryono juga mengakui adanya keluhan yang berasal dari internal Badan Gizi Nasional. Menurutnya, hal tersebut muncul setelah BGN melakukan penertiban terhadap sejumlah petugas dan pelaksana program yang dinilai tidak menjalankan tugas sesuai ketentuan. Ia menegaskan bahwa langkah penegakan disiplin akan tetap dilakukan meskipun memunculkan protes dari sebagian pihak.
Dalam kesempatan yang sama, Sudaryono mengungkapkan bahwa BGN telah menutup hampir 2.000 dapur MBG yang dianggap bermasalah. Ia juga menyiapkan sanksi yang lebih tegas bagi kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti menyebabkan kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan program tersebut.
Meski menghadapi kritik dari berbagai pihak, Sudaryono memastikan Program Makan Bergizi Gratis akan terus dijalankan. Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan berbagai langkah perbaikan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program dan meminimalkan persoalan yang muncul di lapangan. Ia optimistis berbagai kendala yang ada dapat diatasi dalam waktu mendatang.










