JAKARTA – Aktivitas vulkanik di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah enam gunung api dilaporkan mengalami erupsi dalam waktu yang relatif berdekatan. Gunung-gunung tersebut meliputi Anak Krakatau, Semeru, Sinabung, Lewotobi Laki-laki, Ile Lewotolok, dan Gunung Ibu.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan di masyarakat mengenai kemungkinan adanya keterkaitan antara erupsi yang terjadi secara hampir bersamaan tersebut. Namun, para ahli menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan seluruh gunung api berada dalam satu sistem yang saling memengaruhi.
Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Indranova Suhendro, menjelaskan bahwa setiap gunung api memiliki sistem magma, karakteristik, dan siklus aktivitas yang berbeda. Menurutnya, kemunculan erupsi pada beberapa gunung api dalam waktu yang sama lebih disebabkan oleh pertemuan siklus aktivitas masing-masing gunung.
“Fenomena ini lebih berkaitan dengan faktor waktu atau timing. Ada gunung yang memang sering erupsi seperti Semeru dan Anak Krakatau, sementara yang lain memiliki periode istirahat lebih panjang sebelum kembali aktif,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), kesamaan jalur subduksi tidak berarti erupsi pada satu gunung akan langsung memicu erupsi gunung lain yang lokasinya berjauhan. Gunung-gunung yang saat ini aktif tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara hingga Maluku.
Sementara itu, beberapa gunung memiliki mekanisme erupsi yang berbeda. Anak Krakatau, misalnya, cenderung mengalami erupsi magmatik yang dipicu oleh tekanan gas dalam magma. Adapun gunung lain seperti Sinabung, Semeru, dan Gunung Ibu dapat mengalami erupsi akibat peningkatan tekanan dari interaksi panas magma dengan air yang tersimpan di dalam tubuh gunung.
Dalam beberapa kasus, aktivitas gempa bumi juga dapat memengaruhi peningkatan aktivitas vulkanik pada gunung tertentu. Namun, pengaruh tersebut bersifat lokal dan tidak berlaku untuk seluruh gunung api yang sedang aktif saat ini.
Badan Geologi mencatat bahwa Gunung Anak Krakatau sendiri mengalami peningkatan aktivitas sejak Juli 2026 dan berstatus Level III (Siaga). Erupsi yang terjadi pada awal September bahkan sempat mengganggu penerbangan dan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia.
Para ahli mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi serta PVMBG. Tingkat bahaya setiap gunung api berbeda-beda sehingga langkah mitigasi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing gunung dan rekomendasi yang berlaku.
Fenomena beberapa gunung api yang aktif dalam periode yang sama memang tergolong tidak biasa, namun hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa seluruh erupsi tersebut saling memicu satu sama lain. Para peneliti menilai kondisi tersebut lebih merupakan pertemuan siklus aktivitas vulkanik yang kebetulan terjadi pada waktu yang berdekatan.










