Petani dan Nelayan Soroti Dampak Pelemahan Rupiah Usai Pernyataan Prabowo soal “Warga Desa Tak Pakai Dolar”

banner 468x60

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa “enggak pakai dolar” saat menanggapi pelemahan rupiah memunculkan beragam respons dari kalangan petani dan nelayan. Sebagian warga desa menilai ucapan tersebut benar dalam konteks transaksi sehari-hari, namun mereka juga mengaku tetap terdampak oleh kenaikan harga barang akibat menguatnya dolar AS.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur. Dalam pidatonya, ia mengatakan masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam aktivitas harian sehingga tidak perlu terlalu khawatir terhadap fluktuasi kurs.

Meski demikian, sejumlah petani dan nelayan menyebut pelemahan rupiah tetap berdampak langsung terhadap kehidupan mereka. Kenaikan harga pupuk, bahan bakar, hingga alat tangkap ikan disebut menjadi beban yang semakin terasa dalam beberapa waktu terakhir.

Seorang petani milenial dari Nusa Tenggara Timur, Santo Buifena, mengatakan masyarakat desa memang tidak bertransaksi memakai dolar, tetapi harga kebutuhan produksi pertanian ikut naik ketika nilai tukar rupiah melemah. Hal serupa juga dirasakan nelayan yang bergantung pada solar dan perlengkapan melaut yang sebagian bahan bakunya masih impor.

Pengamat ekonomi menilai pelemahan rupiah memang dapat berdampak tidak langsung terhadap masyarakat pedesaan. Meski transaksi sehari-hari menggunakan rupiah, harga barang kebutuhan pokok dan biaya produksi tetap dipengaruhi nilai tukar karena Indonesia masih bergantung pada sejumlah komoditas impor.

Di sisi lain, pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, terutama karena ketahanan pangan dan energi dinilai tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *