Sebanyak 135 siswa dan guru dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa ini terjadi di wilayah Jakarta dan menjadi sorotan publik karena melibatkan program pemerintah berskala nasional.
Insiden tersebut terjadi pada April 2026 (berdasarkan laporan terbaru), dengan puluhan korban mengalami gejala seperti mual, muntah, dan pusing. Bahkan, sebagian korban harus menjalani perawatan medis di fasilitas kesehatan setempat.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengakui bahwa kejadian ini merupakan bentuk kelalaian di lapangan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada para korban dan masyarakat.
“Ini adalah salah satu kejadian di mana bentuk kelalaian terjadi di lapangan… kami mohon maaf atas kejadian tersebut,” ujar Dadan.
Sebagai tindak lanjut, BGN langsung melakukan investigasi untuk mencari penyebab pasti keracunan. Selain itu, pemerintah juga menghentikan sementara operasional sekitar 1.750 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum memenuhi standar keamanan, termasuk terkait sanitasi dan sertifikasi.
BGN menegaskan bahwa standar operasional sebenarnya sudah ada, namun tantangan utama berada pada kepatuhan pelaksana di lapangan. Evaluasi menyeluruh pun akan dilakukan, mulai dari proses pengolahan makanan hingga distribusinya ke sekolah.
Kasus ini menambah daftar kejadian serupa dalam program MBG di berbagai daerah. Sebelumnya, insiden dugaan keracunan juga sempat terjadi di Kabupaten Cianjur pada 21–23 April 2025 yang melibatkan puluhan siswa dari beberapa sekolah.
Pemerintah memastikan investigasi akan dilakukan secara menyeluruh dan berjanji meningkatkan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang. Program MBG sendiri merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi pelajar, sehingga aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama ke depan.










