Filosofi Sunda kuno kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya krisis lingkungan. Konsep Tri Tangtu di Buana, yang berasal dari tradisi Sunda Wiwitan dan tercatat dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian, dinilai relevan untuk menjawab berbagai persoalan modern yang dihadapi manusia saat ini.
Kita hidup di zaman yang sibuk meyakinkan diri sendiri bahwa manusia adalah puncak segalanya. Bumi ada untuk dikelola. Hutan ada untuk ditebang kalau perlu. Sungai ada untuk dialirkan ke kepentingan proyek. Dan kalau alam protes dengan bentuk banjir, longsor, bahkan kekeringan, kita menyebut itu bencana, seolah hanya alamlah yang berulah, sama sekali memisahkan andil kita bertahun-tahun sebelumnya.
Yang ironis: leluhur Sunda sudah punya jawaban atas arogansi ini ratusan tahun lalu. Namanya Tri Tangtu di Buana.
Konsep ini menjelaskan bahwa alam semesta terdiri dari tiga lapisan yang saling menopang: Buana Nyungcung (atas) sebagai ranah transenden, Buana Panca Tengah (tengah) sebagai tempat manusia hidup, dan Buana Larang (bawah) sebagai akar kehidupan, tanah, serta kematian.
Yang penting digarisbawahi: ini bukan hierarki. Manusia di tengah bukan berarti manusia di puncak. Justru sebaliknya, manusia berada di tengah karena tugasnya adalah menjadi penghubung, bukan penguasa. Kamu ada di tengah percakapan antara langit dan bumi. Kamu punya tanggung jawab ke atas dan ke bawah. Kalau kamu rusak satu arah, seluruh sistem berantakan.
Pandangan ini berbeda dengan pemikiran modern Barat yang dipopulerkan oleh René Descartes melalui konsep cogito ergo sum—“aku berpikir, maka aku ada.” Dalam kerangka ini, manusia diposisikan sebagai subjek, sementara alam menjadi objek yang hanya dinilai dari kegunaannya.
Pohon berguna kalau bisa jadi meja. Sungai berguna kalau bisa jadi pembangkit listrik. Tanah berguna kalau bisa jadi kavling.
Logika inilah yang sekarang sedang membunuh Citarum River. Yang mengubah lereng Priangan jadi beton. Yang membuat banjir Bandung Selatan bukan lagi kejutan, tapi jadwal tahunan.
Dalam bahasa Tri Tangtu: kita sudah lama mengabaikan buana larang dan sekarang ia sedang membalas.
Praktik nilai-nilai ini masih dapat ditemukan pada masyarakat adat Baduy di Banten Selatan melalui sistem pikukuh, yaitu aturan adat yang mengatur hubungan manusia dengan alam. Larangan seperti tidak menebang pohon sembarangan, tidak mengubah aliran air, dan tidak mengambil lebih dari kebutuhan dianggap sebagai bentuk kearifan ekologis yang berkelanjutan.
Konsep serupa juga pernah dikembangkan oleh filsuf Norwegia Arne Næss melalui gagasan deep ecology, yang menolak pandangan antroposentris dan menekankan bahwa alam memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar nilai guna bagi manusia.
Bukan berarti kita harus nostalgia atau romantisasi masa lalu. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apa yang kita buang ketika kita memutuskan bahwa pengetahuan lokal tidak cukup ilmiah untuk didengar?
Tri Tangtu di Buana bukan sekadar mitos lama. Ia dapat dibaca sebagai kritik terhadap cara pandang modern yang menempatkan manusia di atas segalanya. Kini, dampak dari cara pandang tersebut semakin nyata melalui meningkatnya bencana lingkungan seperti banjir, longsor, dan penurunan kualitas udara.










