Polemik Dapur MBG di Perguruan Tinggi, Rektor UI Pilih Fokus pada Pendidikan dan Riset

banner 468x60

Wacana perguruan tinggi memiliki dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat tanggapan dari Rektor Universitas Indonesia, Heri Hermansyah. Ia menegaskan bahwa tugas utama universitas adalah menjalankan pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat, bukan mengelola operasional dapur umum.

Pernyataan itu muncul setelah Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mendorong setiap kampus memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG untuk mendukung program prioritas pemerintah. Menurut Dadan, kampus bisa menjadi pusat pembelajaran sekaligus praktik dalam pengelolaan pangan dan gizi.

Heri Hermansyah menyebut keterlibatan kampus dalam program MBG tetap memungkinkan, namun pelaksanaannya sebaiknya dilakukan oleh unit usaha universitas yang memang bergerak di bidang layanan makanan atau perhotelan. Ia mencontohkan UI memiliki unit usaha seperti Wisma Makara yang sudah mempunyai fasilitas dapur dan pengalaman dalam penyediaan makanan.

Menurutnya, universitas harus tetap menjaga fokus utama sebagai lembaga pendidikan tinggi. Ia menilai pengelolaan dapur MBG perlu dikaji lebih lanjut agar tidak mengganggu fungsi akademik kampus.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendukung keterlibatan perguruan tinggi dalam program MBG. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan kampus dapat berkontribusi melalui riset, inovasi teknologi pangan, hingga pengembangan sistem distribusi dan keamanan pangan.

Sejumlah kampus juga mulai menjalankan konsep tersebut. Salah satunya Universitas Hasanuddin yang telah memiliki fasilitas SPPG dan mengintegrasikannya dengan kegiatan riset serta pengembangan teknologi gizi di lingkungan kampus.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *