BOGOR — Ratusan umat Islam dari berbagai latar belakang menghadiri peringatan Hari Asyura 10 Muharram 1448 Hijriah yang digelar di Masjid Baiturrahmah (Masjid Kaum Ciawi), Kabupaten Bogor, Jumat (26/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.30 hingga 17.00 WIB itu menjadi peringatan Asyura yang diselenggarakan secara terbuka untuk masyarakat umum dengan menghadirkan jamaah Sunnah dan Syiah dalam satu majelis.
Mengusung semangat wahdah atau persatuan, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan beragam elemen umat Islam, lintas mazhab, lintas tarekat, lintas organisasi kemasyarakatan, serta lintas identitas. Alhamdulillah, seluruh rangkaian acara berlangsung aman, tertib, dan penuh khidmat.
Pemateri utama, KH. Abdurrahman Bustomi, M.A., Imam Besar Masjid Baiturrahmah sekaligus penceramah Masjid Istiqlal Jakarta, mengajak jamaah untuk mengenang sosok Sayyidina Husain bin Ali sebagai cucu Rasulullah saw. yang gugur mempertahankan kebenaran dalam tragedi Karbala.
Dalam ceramahnya, KH. Bustomi mengisahkan bagaimana Al-Husain bersama keluarga dan para sahabatnya mengalami pengepungan, kehausan, hingga akhirnya dibantai di Padang Karbala. Tragedi Karbala merupakan pelajaran abadi tentang keberanian mempertahankan keadilan, kesucian agama, dan nilai-nilai kemanusiaan di hadapan kekuasaan yang zalim.
“Kalau kita mencintai Rasulullah, bagaimana mungkin kita melupakan cucu beliau? Kita semua ingin masuk surga. Maka mengenal, mencintai, dan mengambil pelajaran dari perjuangan beliau merupakan sebuah keniscayaan agar kita dapat bersama dengan Al-Husain di surga. Karena Al-Husain bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan penghulu pemuda penghuni surga sebagaimana sabda Rasulullah saw.”
Sebelum ceramah berlangsung, acara diawali dengan penampilan Qasidah Alwatasi yang membangkitkan suasana religius, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Abdullah Sengkang Gurium.
Memasuki acara inti, Habib Syahdu Alaydrus memimpin pembacaan tahlil dari Al-Qur’an yang diikuti seluruh jamaah.
Usai ceramah, Habib Syahdu melanjutkan rangkaian acara dengan mengisahkan epos kesyahidan Al-Husain beserta keluarga dan para sahabatnya di Padang Karbala. Kisah tersebut menghadirkan suasana haru. Banyak jamaah larut dalam keheningan dan tampak meneteskan air mata saat mengenang pengorbanan cucu Rasulullah saw.
Dalam pesannya, Habib Syahdu menegaskan bahwa perjuangan kafilah Al-Husain bukan dilandasi motif cinta dunia dan kekuasaan, melainkan karena menolak baiat yang dipaksakan dan menjaga kemurnian agama kakeknya.

Peringatan Asyura merupakan momentum untuk memperkuat persaudaraan umat Islam serta membangun kepedulian terhadap kaum beriman yang tertindas di berbagai belahan dunia dengan meneladani perjuangan Al-Husain sebagai Sayyidus Syuhada.
Dalam narasi Syiah, Hari Asyura dimaknai sebagai hari ketika darah mengalahkan pedang, hari pengorbanan keluarga Al-Musthafa, hari kebangkitan melawan kezaliman, serta hari ketika kebenaran dibuktikan melalui pengorbanan. Nilai-nilai tersebut dipandang bersifat universal karena mengajarkan keberanian, keadilan, dan keteguhan dalam membela kebenaran.
Semangat itulah yang mewarnai penyelenggaraan Asyura di Masjid Baiturrahmah. Kehadiran jamaah Sunnah dan Syiah dalam satu majelis menjadi simbol bahwa kecintaan kepada Rasulullah saw. dan Ahlul Bait dapat menjadi titik temu untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman pandangan.
Sejumlah peserta mengaku bahagia dapat mengikuti peringatan Asyura yang berlangsung secara terbuka dan penuh kekeluargaan. Mereka berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan di Kota Bogor sebagai ruang edukasi, silaturahmi, dan penguatan persatuan umat.
Peringatan Hari Asyura ini diharapkan menjadi inspirasi lahirnya forum-forum dialog dan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan keagamaan lintas mazhab.










