Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan oli kendaraan dalam beberapa bulan terakhir mulai dirasakan oleh berbagai kalangan, terutama para pengemudi ojek online (ojol) yang mengandalkan kendaraan roda dua sebagai sumber penghasilan utama. Meningkatnya biaya operasional membuat pendapatan bersih para pengemudi semakin tergerus.
Penyesuaian harga sejumlah BBM non-subsidi yang dilakukan pada 2026 menyebabkan biaya harian pengemudi meningkat. Beberapa jenis BBM mengalami kenaikan signifikan mengikuti pergerakan harga minyak dunia dan mekanisme pasar internasional.
Bagi pengemudi ojol yang rata-rata menempuh puluhan hingga ratusan kilometer setiap hari, kenaikan harga BBM langsung berdampak pada pengeluaran harian. Di sisi lain, harga oli dan komponen perawatan kendaraan juga mengalami kenaikan, sehingga biaya servis berkala menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
Sejumlah pengemudi mengaku harus bekerja lebih lama untuk mempertahankan pendapatan yang sama. Jika sebelumnya sebagian besar penghasilan dapat disisihkan setelah dikurangi biaya operasional, kini porsi pengeluaran untuk bahan bakar dan perawatan kendaraan semakin besar.
Pengamat ekonomi menilai kenaikan biaya energi memang berpotensi menambah tekanan terhadap kelompok pekerja yang bergantung pada mobilitas tinggi. Meski dampak terhadap inflasi secara umum dinilai terbatas karena yang mengalami kenaikan adalah BBM non-subsidi, kelompok seperti pengemudi ojek online, kurir, dan pelaku usaha transportasi tetap menjadi pihak yang paling merasakan konsekuensinya.
Para pengemudi berharap adanya kebijakan yang dapat meringankan beban operasional mereka, baik melalui program subsidi tertentu, insentif transportasi daring, maupun penyesuaian tarif layanan yang lebih sesuai dengan kondisi biaya di lapangan. Dengan demikian, keseimbangan antara pendapatan dan biaya operasional dapat tetap terjaga di tengah kenaikan harga energi yang terus berlangsung.










