Duka menyelimuti misi kemanusiaan bagi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang relawan asal Jakarta, Ahmad Zaki Ali (42), meninggal dunia saat menjalankan tugas menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur.
Ahmad Zaki Ali dikenal sebagai pendiri Yayasan Gerak Bareng yang aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Saat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya, ia bersama tim relawan turun langsung ke lokasi untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Berdasarkan keterangan Basarnas, peristiwa itu terjadi ketika Zaki dan rombongan sedang dalam perjalanan mendistribusikan bantuan logistik dari Reo, Kabupaten Manggarai menuju wilayah Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, yang menjadi salah satu daerah terdampak parah gempa. Di tengah perjalanan, Zaki mengeluhkan kondisi kesehatannya yang menurun dan meminta kendaraan berhenti.
Rekan-rekannya berupaya memberikan pertolongan pertama. Namun, kondisi Zaki terus memburuk hingga akhirnya tidak sadarkan diri. Ia kemudian dibawa ke Puskesmas Dampek, tetapi dinyatakan meninggal dunia saat tiba di fasilitas kesehatan tersebut. Dugaan sementara, ia mengalami serangan jantung yang dipicu kelelahan saat menjalankan misi kemanusiaan.
Kepergian Ahmad Zaki Ali meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan relawan, dan masyarakat yang mengenalnya. Sosoknya dikenang sebagai pribadi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama dan tidak ragu turun langsung ke lokasi bencana untuk membantu warga yang membutuhkan.
Gempa bumi yang melanda NTT pada pertengahan Agustus 2026 menyebabkan puluhan korban jiwa, ribuan orang terluka, serta puluhan ribu warga harus mengungsi. Di tengah situasi tersebut, para relawan kemanusiaan menjadi garda terdepan dalam menyalurkan bantuan dan mendampingi masyarakat terdampak. Gugurnya Ahmad Zaki Ali menjadi pengingat atas besarnya pengorbanan para relawan dalam menjalankan misi kemanusiaan di daerah bencana.










