JAKARTA — Informasi mengenai sebaran gas sulfur dioksida (SO₂) dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut mengarah hingga Jabodetabek ramai beredar di media sosial. Informasi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat karena SO₂ dalam konsentrasi tertentu dapat mengganggu kesehatan.
Namun, masyarakat diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa gas berbahaya tersebut telah mencapai permukaan dan membahayakan warga Jabodetabek hanya berdasarkan peta atau citra satelit.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau memang menghasilkan emisi SO₂ yang dapat terdeteksi melalui satelit. Akan tetapi, deteksi SO₂ di atmosfer tidak serta-merta menunjukkan bahwa gas tersebut telah berada di permukaan dengan konsentrasi yang membahayakan masyarakat.
Untuk memastikan risiko terhadap masyarakat, diperlukan pengukuran kualitas udara di permukaan.
“Erupsi Gunung Anak Krakatau memang mengemisikan SO₂ dan emisinya terdeteksi oleh satelit. Namun, klaim bahwa gas SO₂ dari Anak Krakatau telah mencapai permukaan dan membahayakan masyarakat belum dapat dibenarkan berdasarkan citra tersebut saja,” demikian penjelasan yang disampaikan BMKG. {“fallbackMarkdown”:”(detiknews)”,”reference”:{“matched_text”:””,”prefix”:null,”start_idx”:2186,”end_idx”:2203,”safe_urls”:[“https://news.detik.com/berita/d-8652483/gas-so2-menyebar-imbas-erupsi-gunung-anak-krakatau-ini-kata-bmkg-dan-pvmbg”,”https://news.detik.com/berita/d-8652483/gas-so2-menyebar-imbas-erupsi-gunung-anak-krakatau-ini-kata-bmkg-dan-pvmbg?utm_source=chatgpt.com”],”refs”:[],”alt”:”(detiknews)”,”prompt_text”:null,”type”:”grouped_webpages”,”items”:[{“title”:”Gas SO2 Menyebar Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau? Ini Kata BMKG dan PVMBG”,”url”:”https://news.detik.com/berita/d-8652483/gas-so2-menyebar-imbas-erupsi-gunung-anak-krakatau-ini-kata-bmkg-dan-pvmbg?utm_source=chatgpt.com”,”attribution”:”detiknews”,”pub_date”:1788798256,”snippet”:”BMKG dan PVMBG menjelaskan isu penyebaran gas SO2 dari Gunung Anak Krakatau. Kualitas udara di permukaan masih aman, masyarakat diminta…”,”thumbnail_url”:”https://images.openai.com/static-rsc-1/wT81hyXCsnx4iYnnMU4_xCE8lQV2edhcAKs_-HtpKKVQ7oJCeQCzyQUb1k_Gq_zt1y-cfkFqvlz8nSVywXmOPoX6ccLpIxj8Ewiyq6c8MGGMa0Y_Xry4vr-Wfa0Y8mRCqeeNcmlVjClx0UQI7d-dehKJ7BSvYSSJCRv_tjzlkngfOHMUNM5lLD6PlzjafexnoPOZ5tInjlAcjBUdqaEhwQ”,”attribution_segments”:null,”supporting_websites”:[],”refs”:[{“turn_index”:0,”ref_type”:”news”,”ref_index”:2}],”hue”:null,”attributions”:null}],”error”:null,”fallback_items”:null,”style”:null,”status”:”done”},”showLoginRequiredCard”:false}
Kualitas udara permukaan masih menjadi acuan
BMKG menegaskan, kondisi yang perlu menjadi perhatian adalah kualitas udara yang benar-benar berada di permukaan tempat masyarakat beraktivitas.
Jika kualitas udara permukaan masih berada pada kategori baik atau sedang, masyarakat pada dasarnya masih dapat melakukan aktivitas normal. Meski demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan pelindung mata ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama di wilayah yang terdampak abu vulkanik.
Karena itu, peta berwarna merah atau pekat yang beredar di media sosial tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa warga Jabodetabek sedang terpapar gas SO₂ dalam konsentrasi berbahaya.
Anak Krakatau masih berstatus Siaga
Di sisi lain, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau memang masih perlu diwaspadai.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 7 September 2026 menyatakan status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus yang dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB telah berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB setelah berlangsung sekitar 25 jam. Setelah itu, aktivitas erupsi strombolian masih terjadi dan perkembangan aktivitas gunung api terus dipantau. {“fallbackMarkdown”:”(Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi)”,”reference”:{“matched_text”:””,”prefix”:null,”start_idx”:3535,”end_idx”:3554,”safe_urls”:[“https://geologi.esdm.go.id/media-center/perkembangan-erupsi-gunungapi-anak-krakatau-tanggal-7-september-2026″,”https://geologi.esdm.go.id/media-center/perkembangan-erupsi-gunungapi-anak-krakatau-tanggal-7-september-2026?utm_source=chatgpt.com”],”refs”:[],”alt”:”(Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi)”,”prompt_text”:null,”type”:”grouped_webpages”,”items”:[{“title”:”Berita | Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi”,”url”:”https://geologi.esdm.go.id/media-center/perkembangan-erupsi-gunungapi-anak-krakatau-tanggal-7-september-2026?utm_source=chatgpt.com”,”attribution”:”Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi”,”pub_date”:1788739200,”snippet”:””,”attribution_segments”:null,”supporting_websites”:[],”refs”:[{“turn_index”:1,”ref_type”:”search”,”ref_index”:0}],”hue”:null,”attributions”:null}],”error”:null,”fallback_items”:null,”style”:null,”status”:”done”},”showLoginRequiredCard”:false}
Ancaman yang menjadi perhatian utama saat ini berkaitan dengan aktivitas erupsi, antara lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi. {“fallbackMarkdown”:”(Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi)”,”reference”:{“matched_text”:””,”prefix”:null,”start_idx”:3755,”end_idx”:3774,”safe_urls”:[“https://geologi.esdm.go.id/media-center/perkembangan-erupsi-gunungapi-anak-krakatau-tanggal-7-september-2026″,”https://geologi.esdm.go.id/media-center/perkembangan-erupsi-gunungapi-anak-krakatau-tanggal-7-september-2026?utm_source=chatgpt.com”],”refs”:[],”alt”:”(Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi)”,”prompt_text”:null,”type”:”grouped_webpages”,”items”:[{“title”:”Berita | Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi”,”url”:”https://geologi.esdm.go.id/media-center/perkembangan-erupsi-gunungapi-anak-krakatau-tanggal-7-september-2026?utm_source=chatgpt.com”,”attribution”:”Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi”,”pub_date”:1788739200,”snippet”:””,”attribution_segments”:null,”supporting_websites”:[],”refs”:[{“turn_index”:1,”ref_type”:”search”,”ref_index”:0}],”hue”:null,”attributions”:null}],”error”:null,”fallback_items”:null,”style”:null,”status”:”done”},”showLoginRequiredCard”:false}
Warga diminta tidak panik
Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sementara itu, masyarakat yang terdampak abu vulkanik dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker saat berada di luar untuk menghindari gangguan pernapasan. {“fallbackMarkdown”:”(Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi)”,”reference”:{“matched_text”:””,”prefix”:null,”start_idx”:4156,”end_idx”:4175,”safe_urls”:[“https://geologi.esdm.go.id/media-center/perkembangan-erupsi-gunungapi-anak-krakatau-tanggal-7-september-2026″,”https://geologi.esdm.go.id/media-center/perkembangan-erupsi-gunungapi-anak-krakatau-tanggal-7-september-2026?utm_source=chatgpt.com”],”refs”:[],”alt”:”(Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi)”,”prompt_text”:null,”type”:”grouped_webpages”,”items”:[{“title”:”Berita | Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi”,”url”:”https://geologi.esdm.go.id/media-center/perkembangan-erupsi-gunungapi-anak-krakatau-tanggal-7-september-2026?utm_source=chatgpt.com”,”attribution”:”Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi”,”pub_date”:1788739200,”snippet”:””,”attribution_segments”:null,”supporting_websites”:[],”refs”:[{“turn_index”:1,”ref_type”:”search”,”ref_index”:0}],”hue”:null,”attributions”:null}],”error”:null,”fallback_items”:null,”style”:null,”status”:”done”},”showLoginRequiredCard”:false}
BMKG juga terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan abu vulkanik dan kondisi atmosfer. Pada 7 September 2026, BMKG menyatakan pemantauan dilakukan secara intensif dan masyarakat diminta tetap tenang serta mengikuti informasi dari instansi resmi. {“fallbackMarkdown”:”(BMKG)”,”reference”:{“matched_text”:””,”prefix”:null,”start_idx”:4428,”end_idx”:4447,”safe_urls”:[“https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/imbas-sebaran-abu-vulknaik-anak-krakatau-8-bandara-ditutup-sementara-bmkg-minta-waspada-dan-tenang”,”https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/imbas-sebaran-abu-vulknaik-anak-krakatau-8-bandara-ditutup-sementara-bmkg-minta-waspada-dan-tenang?utm_source=chatgpt.com”],”refs”:[],”alt”:”(BMKG)”,”prompt_text”:null,”type”:”grouped_webpages”,”items”:[{“title”:”Imbas Sebaran Abu Vulknaik Anak Krakatau, 8 Bandara Ditutup Sementara, BMKG Minta Waspada dan Tenang – Siaran Pers – BMKG”,”url”:”https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/imbas-sebaran-abu-vulknaik-anak-krakatau-8-bandara-ditutup-sementara-bmkg-minta-waspada-dan-tenang?utm_source=chatgpt.com”,”attribution”:”BMKG”,”pub_date”:1788739200,”snippet”:””,”attribution_segments”:null,”supporting_websites”:[],”refs”:[{“turn_index”:1,”ref_type”:”search”,”ref_index”:3}],”hue”:null,”attributions”:null}],”error”:null,”fallback_items”:null,”style”:null,”status”:”done”},”showLoginRequiredCard”:false}
Dengan demikian, isu bahwa gas SO₂ Anak Krakatau sudah “mengepung” Jabodetabek dan pasti membahayakan warga tidak tepat jika hanya didasarkan pada citra satelit. SO₂ memang terdeteksi sebagai bagian dari emisi erupsi, tetapi tingkat bahayanya bagi masyarakat harus ditentukan berdasarkan konsentrasi gas di udara permukaan.
Masyarakat disarankan tidak menyebarkan informasi atau peta yang belum terverifikasi dan mengikuti pembaruan resmi dari BMKG, Badan Geologi/PVMBG, BNPB, BPBD, serta pemerintah daerah.










