KALIMANTAN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menghadapi tantangan besar, terutama di kawasan lahan gambut. Berbeda dengan kebakaran biasa, api di lahan gambut dapat merambat ke lapisan bawah tanah dan menyisakan bara yang sulit dideteksi.
Gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang terurai secara tidak sempurna selama ribuan tahun. Dalam kondisi alami, gambut menyimpan banyak air sehingga relatif sulit terbakar.
Namun, ketika gambut mengering akibat musim kemarau atau perubahan tata air, material organik di dalamnya menjadi mudah terbakar. Api dapat merambat melalui lapisan gambut dan membara tanpa menghasilkan kobaran besar yang terlihat di permukaan.
Kondisi ini dikenal sebagai smouldering, yaitu proses pembakaran perlahan yang dapat bertahan lama di dalam material organik. Bara yang tersisa bahkan bisa memicu kebakaran kembali.
Mengapa api sulit dipadamkan?
Petugas tidak cukup hanya menyiram bagian permukaan yang terbakar. Lapisan gambut yang menjadi sumber bara juga harus dibasahi dan didinginkan secara menyeluruh agar api tidak kembali muncul.
Selain itu, struktur gambut yang berpori dan kondisi lapisan bawah tanah membuat proses pemadaman membutuhkan waktu serta penanganan khusus.
Menjaga gambut tetap basah menjadi kunci
Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pada upaya menjaga kelembapan gambut, memperbaiki tata air, dan mencegah munculnya sumber api baru.
Ketika gambut mengering, risiko kebakaran meningkat. Karena itu, menjaga ketinggian air dan mencegah pengeringan lahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko karhutla berulang.
Kebakaran gambut bukan sekadar persoalan api yang terlihat di permukaan. Bara yang tersembunyi di bawah tanah dapat terus bertahan dan kembali memicu kebakaran meskipun kobaran api sudah tidak terlihat.










