Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang wilayah selatan Filipina pada Senin (8/6/2026). Pusat gempa berada di lepas pantai Provinsi Sarangani, Pulau Mindanao, dan menyebabkan kerusakan luas di sejumlah daerah terdampak.
Hingga Selasa (9/6/2026), jumlah korban jiwa terus bertambah seiring berlangsungnya proses pencarian dan evakuasi. Laporan terbaru menyebut sedikitnya 37 orang meninggal dunia, ratusan lainnya mengalami luka-luka, sementara beberapa orang masih dinyatakan hilang.
Kota General Santos menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah. Sejumlah bangunan dilaporkan roboh, jaringan listrik dan komunikasi terganggu, serta ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Pemerintah setempat bahkan menetapkan status darurat bencana untuk mempercepat penanganan korban dan pemulihan infrastruktur.
Gempa kuat tersebut juga sempat memicu peringatan tsunami di Filipina dan beberapa negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Namun, setelah dilakukan pemantauan lebih lanjut, peringatan tsunami akhirnya dicabut karena ancaman gelombang besar dinilai telah mereda.
Tim penyelamat masih bekerja mencari korban yang diduga terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Sejumlah rumah sakit mengalami kerusakan sehingga pelayanan medis darurat dilakukan menggunakan fasilitas sementara untuk menangani para korban luka.
Filipina merupakan salah satu negara yang berada di kawasan “Cincin Api Pasifik” (Ring of Fire), wilayah yang dikenal memiliki aktivitas gempa bumi dan vulkanik yang sangat tinggi. Karena itu, gempa berkekuatan besar kerap terjadi dan berpotensi menimbulkan kerusakan serius.
Pemerintah Filipina bersama tim tanggap darurat terus melakukan upaya penyelamatan, pendistribusian bantuan, serta pendataan kerusakan guna membantu warga yang terdampak bencana tersebut.









