Bandung – Nama mereka mungkin tak sering muncul di buku pelajaran sejarah. Namun empat perempuan asal tanah Sunda ini punya peran besar dalam membuka jalan bagi pendidikan, hak, dan kemandirian perempuan Indonesia.
Mereka adalah Raden Dewi Sartika, Raden Ayu Lasminingrat, Raden Siti Jenab, dan Emma Poeradiredja — sosok-sosok yang menyalakan semangat perubahan dari Bandung hingga Cianjur, jauh sebelum istilah “emansipasi” menjadi populer.
Raden Dewi Sartika: Mendirikan Sekolah untuk Perempuan di Bandung
Tahun 1904 menjadi tonggak penting bagi pendidikan perempuan pribumi. Di sebuah rumah sederhana di Bandung, Raden Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri, sekolah pertama yang secara khusus membuka akses belajar bagi anak-anak perempuan.
Di masa ketika perempuan hanya diajarkan mengurus rumah, Dewi Sartika mengajarkan membaca, menulis, dan menjahit.
“Perempuan pun berhak pintar,” begitu semangat yang ia tanamkan. Gagasannya menjadi pondasi bagi sistem pendidikan perempuan di Tanah Sunda.
Raden Ayu Lasminingrat: Membawa Dongeng Dunia ke Tanah Sunda
Puluhan tahun sebelum itu, di Garut, Raden Ayu Lasminingrat sudah lebih dulu melangkah. Putri bangsawan yang menguasai bahasa Belanda ini menerjemahkan dongeng-dongeng Eropa ke dalam bahasa Sunda agar dapat dinikmati masyarakat lokal.
Tak hanya itu, ia mendirikan Sakola Kautamaan Istri, sekolah yang menggabungkan pengetahuan modern dengan nilai-nilai adat Sunda.
Lasminingrat dikenal sebagai perempuan yang mempertemukan dunia Barat dengan kearifan lokal.
Raden Siti Jenab: Guru yang Mengajar dari Rumah ke Rumah
Berbeda dengan keduanya, Raden Siti Jenab dari Cianjur memilih jalan sunyi. Ia berjalan kaki dari kampung ke kampung, menyusuri kebun teh dan sawah, mengajarkan membaca, berhitung, dan keterampilan rumah tangga kepada perempuan desa.
“Ilmu itu diantarkan, bukan hanya ditunggu,” begitu prinsipnya.
Siti Jenab membuktikan bahwa pendidikan sejati tak butuh gedung megah, cukup ketulusan dan tekad untuk berbagi ilmu.
Emma Poeradiredja: Perempuan Pertama di Kursi Dewan Kota
Pada 1939, sejarah mencatat nama Emma Poeradiredja sebagai perempuan Sunda pertama yang duduk di Dewan Kota Bandung. Di tengah dominasi kaum pria, Emma memperjuangkan isu kesehatan ibu dan anak, serta hak sosial perempuan.
Ia bukan sekadar politisi, tapi juga pelopor kesetaraan yang membuka ruang bagi perempuan untuk bicara dan memimpin.
Meski tak selalu disebut dalam buku teks, perjuangan empat perempuan Sunda ini meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Indonesia.
Dari ruang kelas sederhana hingga kursi dewan kota, mereka membuktikan bahwa perubahan besar sering dimulai oleh keberanian yang sederhana.










