Kang Dedi Mulyadi (KDM) kembali melontarkan kritik keras terhadap pengembang perumahan di wilayah Bekasi. Melalui pernyataannya yang beredar luas di media sosial, KDM menyinggung janji-janji manis para developer yang dulu gencar mempromosikan kawasan hunian mereka sebagai bebas banjir, namun kini justru menjadi langganan genangan hingga banjir parah.
Seperti yang dilansir dari detik.com, kejadian banjir akibat curah hujan tinggi terjadi sepanjang minggu lalu hingga akhir pekan lalu. Di kawasan Perumahan Green Lavender misalnya, air setinggi hingga 180 cm merendam puluhan rumah sehingga banyak dinding tembok rumah jebol dan ratusan warga dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.
“Dulu dipasarkan katanya aman, bebas banjir, lingkungan tertata. Sekarang setiap hujan deras, air masuk ke rumah warga. Ke mana tanggung jawab developer?” ujar KDM dengan nada menyindir.
“Mari para developer turun langsung menemui konsumen Anda dan duduk bersama pemerintah untuk mencari solusi. Bukankah dulu salah satu promo saat penjualan adalah ‘Bebas Banjir’?” ujar KDM melalui unggahan di akun media sosialnya.
Menurut KDM, persoalan banjir di kawasan perumahan Bekasi bukan semata faktor alam, melainkan dampak dari buruknya perencanaan tata ruang, alih fungsi lahan, serta sistem drainase yang tidak memadai. Ia menilai banyak pengembang lebih mementingkan penjualan ketimbang keberlanjutan lingkungan dan keselamatan penghuni.
“Lahan resapan air ditutup, sungai dipersempit, saluran air asal jadi. Yang menanggung akibatnya rakyat kecil,” tegasnya.
KDM juga meminta pemerintah daerah tidak lepas tangan dan berani mengevaluasi serta menindak pengembang yang lalai terhadap kewajiban lingkungan. Ia menekankan bahwa izin pembangunan tidak boleh hanya menjadi formalitas, tetapi harus disertai pengawasan ketat.
Pernyataan KDM ini mendapat respons luas dari warganet. Banyak warga perumahan di Bekasi mengaku mengalami hal serupa—rumah terendam banjir meski sebelumnya dijanjikan hunian aman dan nyaman.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari asosiasi pengembang perumahan terkait sindiran tersebut.










