YOGYAKARTA, INDONESIA — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menceritakan pengalaman teror yang dialaminya serta keluarga, termasuk sang ibu, setelah dia menyuarakan kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.
Kritik Tiyo berawal dari responsnya terhadap tragedi seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis sekolah. Ia menilai tragedi tersebut mencerminkan kegagalan negara dalam menjamin hak dasar rakyat, dan ia kemudian mengirim surat terbuka kepada UNICEF serta menyampaikan kritik terhadap prioritas anggaran negara, termasuk program MBG.
Teror Bertubi-tubi, Juga Menyasar Keluarga
Menurut Tiyo, setelah kritik tersebut viral, ia menerima berbagai bentuk intimidasi, termasuk ancaman penculikan dan tuduhan-tuduhan fitnah lewat pesan dari nomor tak dikenal, beberapa di antaranya berkode negara Inggris (+44). Selain dirinya, keluarga Tiyo juga menjadi sasaran teror.
Ia mengungkapkan bahwa ibunya menerima dua pesan misterius pada malam hari yang memojokkan dan menyerang nama baiknya, termasuk memanfaatkan berbagai kerentanan sosial. Tiyo bahkan mengatakan ibunya merasa takut ketika menerima pesan-pesan tersebut.
Tiyo sendiri menyatakan bahwa berbagai fitnah dan tudingan terhadap dirinya sama sekali tidak berdasar, dan ia menolak narasi yang menyerangnya secara personal atau mengaitkannya dengan isu tertentu yang tidak relevan dengan kritik yang disampaikannya.
Respons Publik dan Pemerintah
Kasus intimidasi terhadap Tiyo mendapat respons dari sejumlah pihak. Beberapa tokoh politik mengkritik tindakan teror yang terjadi, menyebutnya sebagai bentuk yang tidak pantas dalam merespons perbedaan pendapat. Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, misalnya, menilai kritik terhadap program MBG adalah bagian dari kebebasan berpendapat, meski ia sendiri menilai caranya kurang tepat.
Sementara itu, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyatakan bahwa semestinya mahasiswa yang berani menyampaikan pendapat dilindungi, dan bukan menjadi objek teror, apalagi sampai keluarga ikut menjadi sasaran.
Pihak Istana juga merespons kejadian ini dengan menegaskan bahwa kritik adalah bagian dari kehidupan demokrasi, namun penting disampaikan dengan adab dan etika. Pemerintah menyatakan akan menelusuri kasus intimidasi yang dialami mahasiswa tersebut.
Impliasi terhadap Demokrasi
Kasus yang menimpa Tiyo Ardianto memicu diskusi di kalangan akademisi, praktisi politik, dan aktivis soal batasan dalam kebebasan berpendapat dan bagaimana respons terhadap kritik harus dijaga tanpa melakukan tindakan yang mengintimidasi. Beberapa pihak mengecam teror tersebut sebagai kemunduran dalam iklim demokrasi.










