SUKABUMI – Jalur utama menuju lokasi wisata ziarah Makam Wali Sakti Syekh Qudrotullah atau yang dikenal sebagai Eyang Haji Gentar Bumi di Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, rusak parah. Jalan berbatu, berlubang, dan terjal membuat perjalanan warga maupun peziarah dari berbagai daerah menjadi sangat sulit.
Menurut warga setempat, kondisi infrastruktur yang merupakan jalan provinsi tersebut sudah puluhan tahun belum tersentuh perbaikan. “Setahu saya itu jalan provinsi, memang sudah dari dulu belum ada penanganan. Ya begitu-begitu saja, repot juga sih, tapi mau bagaimana lagi. Setiap hari mesti lewat situ,” ujar salah seorang warga yang telah menetap di kawasan tersebut sejak 2010.
Ia menambahkan, meski jalan desa menuju area makam sudah diperbaiki melalui dana desa, akses utama dari arah Sukawayana hingga ke kawasan situs masih rusak berat.
Situs Bersejarah dan Pusat Ziarah
Makam Syekh Qudrotullah, atau yang lebih dikenal sebagai Eyang Haji Gentar Bumi, berada di kaki Gunung Halimun, Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak. Sosoknya dikenal sebagai tokoh spiritual legendaris yang diyakini memiliki kesaktian luar biasa serta berjasa dalam mengislamkan para pelarian Laskar Padjajaran pasca runtuhnya kerajaan mereka melalui dakwah yang damai.
Selain menjadi tempat ziarah spiritual, makam ini juga termasuk dalam kawasan Situs Pangguyangan, yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Pengelolaannya berada di bawah tiga lembaga: Balai Pelestarian Cagar Budaya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, serta Dinas Kepariwisataan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Sukabumi.
Situs ini juga memiliki nilai sejarah nasional. Beberapa tokoh penting pernah berkunjung dan berziarah ke sana, di antaranya Presiden pertama RI Soekarno, mantan Kapolda Jabar Anton Charliyan, politisi Fadli Zon, serta ulama kharismatik KH Aang Nuh dari Gentur, Cianjur.
Bahkan, menurut catatan sejarah, lokasi ini pernah menjadi salah satu tempat pertapaan Sang Proklamator Ir. Soekarno.
Akses Dibangun Sejak Era Soekarno
Jalur menuju Situs Pangguyangan diketahui mulai dibuka sejak era Presiden Soekarno, saat kawasan itu masih berupa lahan perkebunan. Pembangunan jalan dilanjutkan pada masa Presiden Soeharto melalui program Repelita (1978–1979) dengan membangun akses sepanjang 20 kilometer dari pertigaan Sukawayana menuju Samudera Beach Hotel.
Namun, sejak saat itu hingga kini, kondisi jalan tidak pernah mendapatkan perbaikan berarti.
Budayawan Minta KDM Turun Langsung
Tokoh budaya Jawa Barat, Romo Suling, meminta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) untuk turun langsung meninjau lokasi cagar budaya tersebut. Menurutnya, kondisi akses menuju situs sejarah itu sangat memprihatinkan dan butuh perhatian serius dari pemerintah provinsi.
“Saya sudah beberapa kali mengantar jamaah berziarah ke sana. Faktanya, di tahun 2025 yang sudah modern ini, jalannya masih rusak parah. Padahal itu jalur wisata sejarah dan budaya bangsa,” ungkap Romo Suling, saat memandu rombongan mantan pejabat Depdagri era Soeharto ke Situs Pangguyangan pada 28 Oktober 2025.
Ia berharap Gubernur Dedi Mulyadi dapat meninjau langsung dan mengambil tindakan nyata. “Saya yakin, jika Kang Dedi turun tangan, akan banyak kebaikan bagi masyarakat dan pelestarian budaya Jawa Barat,” pungkasnya.
Reporter: Drajat










