Gus Yahya Resmi Dicopot dari Jabatan Ketua Umum PBNU, Diduga Gara-Gara Kedekatan dengan Tokoh Pro-Israel?

banner 468x60

Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya resmi diberhentikan dari jabatan Ketua Umum PBNU melalui rapat Harian Syuriyah PBNU. Informasi tersebut tercantum dalam Surat Edaran Nomor 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025 yang beredar pada 26 November 2025.

Konfirmasi Pemecatan oleh Pihak PBNU

Dilansir Kompas.com, A’wan PBNU Abdul Muhaimin membenarkan adanya surat edaran tersebut. Surat itu merupakan tindak lanjut dari risalah rapat Pengurus Harian Rais Syuriyah PBNU pada 20 November 2025.

Dalam surat tersebut disebutkan:

“Berdasarkan butir 3 di atas, maka KH. Yahya Cholil Staquf tidak lagi memiliki wewenang dan hak untuk menggunakan atribut, fasilitas, dan/atau hal-hal yang melekat pada jabatan Ketua Umum PBNU terhitung mulai 26 November 2025 pukul 00.45 WIB.”

Dengan keputusan ini, kepemimpinan sementara PBNU kini diambil alih oleh Rais Aam sebagai pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama.

Gus Yahya Tolak Pemecatan: Sebut Tidak Sah

Meski sudah ada keputusan resmi, Gus Yahya menolak pemecatannya. Ia menilai rapat harian Syuriyah tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan mandataris Muktamar.

Gus Yahya menyampaikan:

“Rapat harian Syuriyah tidak bisa memberhentikan siapa pun. Memberhentikan pengurus lembaga saja tidak bisa, apalagi mandataris.”

Pernyataan tersebut disampaikan usai bertemu sejumlah kiai di kantor PBNU, Jakarta, Minggu (23/11/2025) malam.

Pemicu Konflik: Undangan Tokoh Pro-Israel

Salah satu sumber polemik internal PBNU diduga berasal dari undangan terhadap Peter Berkowitz, akademikus asal Amerika Serikat yang dikenal memiliki pandangan pro-Israel, dalam sebuah diskusi di PBNU pada Oktober 2025.

Langkah mengundang Berkowitz dinilai bertentangan dengan sikap resmi PBNU yang tegas mendukung Palestina. Syuriyah PBNU kemudian mengeluarkan risalah yang mendesak Gus Yahya mundur dengan alasan adanya ketidaksesuaian visi.

Krisis Kepemimpinan Terbesar dalam Tubuh PBNU

Keputusan Syuriyah ini dianggap sebagai salah satu krisis kepemimpinan terbesar di PBNU sejak kemerdekaan. Konflik internal tersebut langsung memicu reaksi publik, terutama dari warganet pro-Palestina, yang ramai membahas pencopotan ini di media sosial.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *