Sejak kemunculan menu “Kopi Susu Gula Aren” di berbagai kedai kopi, gula aren (Arenga pinnata) mendadak naik daun. Bahan pemanis tradisional ini dipuja sebagai alternatif gula yang lebih sehat dengan label “alami”, “organik”, dan memiliki indeks glikemik rendah.
Namun, benarkah klaim tersebut sesuai dengan fakta ilmiah? Ataukah gula aren hanya sekadar tren manis yang dibalut citra sehat?
Mitos #1: Soal Rasa, Bukan Soal Sehat
Popularitas gula aren sejatinya lebih banyak dibentuk oleh strategi branding dan pemasaran dibandingkan temuan laboratorium gizi.
Gula aren memang memiliki keunggulan dalam hal rasa: cita rasanya lebih kompleks, memiliki aroma smoky yang khas, serta warna kecokelatan yang memberi kesan alami.
Namun, menurut sejumlah ahli, klaim “lebih sehat” sering kali hanya menjadi alat promosi untuk menambah daya tarik produk dan menjual pengalaman rasa yang lebih mahal.
Mitos #2: Tubuh Tak Mengenal Merek
Secara kimiawi, sistem metabolisme manusia tidak membedakan sumber gula berdasarkan asalnya — baik dari tebu maupun dari nira aren. Keduanya tetap merupakan sumber utama sukrosa, glukosa, dan fruktosa.
Gula pasir yang berasal dari tebu merupakan hasil pemurnian dengan kandungan hampir 100 persen sukrosa. Sementara itu, gula aren mengandung sedikit mineral seperti kalium, kalsium, dan magnesium akibat proses pengeringannya.
Sayangnya, kandungan mineral tersebut sangat kecil dan tidak cukup signifikan untuk memberikan manfaat gizi yang berarti bagi tubuh.
Dengan demikian, dari sisi kalori maupun potensi lonjakan kadar gula darah, efek keduanya nyaris tidak berbeda.
Indeks Glikemik: Harapan yang Pupus
Salah satu alasan utama mengapa banyak orang beralih ke gula aren adalah klaim bahwa pemanis ini memiliki indeks glikemik (IG) yang lebih rendah dibandingkan gula pasir.
Indeks glikemik adalah ukuran yang menunjukkan seberapa cepat karbohidrat dalam makanan diubah menjadi gula darah. Makanan dengan IG rendah dicerna secara perlahan, sehingga menghasilkan kenaikan gula darah yang lebih stabil dan dianggap bermanfaat bagi pengendalian diabetes maupun penurunan berat badan.
Namun, penelitian menunjukkan hasil yang berlawanan dengan klaim tersebut. Sebuah studi terhadap gula semut aren tradisional mencatat nilai IG sebesar 98,71, termasuk kategori tinggi (IG ≥ 70) dan tidak jauh berbeda dari gula pasir yang memiliki nilai IG 100.
Penelitian itu menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara respons glikemik gula aren dan gula pasir. Dengan kata lain, gula aren tetap dapat memicu lonjakan kadar gula darah yang serupa dengan gula tebu.
Lebih Manis, Tapi Tetap Gula
Satu-satunya keunggulan gula aren dibandingkan gula pasir terletak pada tingkat kemanisannya yang lebih pekat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa larutan gula aren terasa lebih manis, sehingga penggunaannya bisa dikurangi tanpa mengurangi cita rasa.
Jika digunakan secara bijak, hal ini dapat membantu menekan total asupan gula harian dan sedikit mengurangi dampak lonjakan gula darah.
Namun, para ahli menegaskan bahwa gula aren tetaplah gula. Ia bukan “tiket bebas” untuk mengonsumsi minuman manis tanpa risiko bagi kesehatan.




