Dulu Dilarang karena ‘Vulgar’, Kini Jaipong Jadi Simbol Perlawanan & Kebanggaan Sunda

banner 468x60

Berkibar News — Saat dentuman kendang dan suara kecrek mengalun riang, tubuh seorang penari Jaipong mulai bergerak lincah. Selendang dilempar, pinggul meliuk, mata menatap tajam namun tersenyum ramah. Gerakan itu penuh energi, jujur, dan bebas — seperti jantung budaya Sunda yang menolak bungkam.

Namun di balik keluwesannya, tarian ini menyimpan kisah panjang perjuangan. Jaipong, yang kini menjadi ikon kebanggaan Jawa Barat, dulunya sempat dianggap “vulgar” dan bahkan nyaris dilarang tampil di masa Orde Baru.


Lahir dari Semangat Perlawanan

Tarian Jaipong lahir pada akhir 1970-an di Bandung dan Karawang. Seniman besar Gugum Gumbira dan H. Suwanda meracik gerakannya dari berbagai kesenian rakyat Sunda, seperti ketuk tilu, kliningan, dan bajidoran.

Di masa itu, kesenian rakyat menghadapi tekanan budaya dan sensor moral. Gerakan spontan dan ekspresif Jaipong dianggap menyalahi norma, bahkan disebut “tidak sopan”. Namun justru stigma itu membuat Jaipong meledak.

Jaipong menjadi simbol seni rakyat yang berani menentang aturan kaku. Ia menegaskan bahwa kebebasan berekspresi bisa hidup berdampingan dengan akar tradisi. Dalam konteks budaya Sunda, Jaipong adalah bentuk perlawanan — bukan terhadap nilai, tapi terhadap pembatasan.


Bahasa Tubuh Perempuan Sunda

Lebih dari sekadar tarian, Jaipong adalah bahasa tubuh yang menggambarkan karakter perempuan Sunda: kuat, anggun, dan percaya diri.

Setiap liukan tangan dan ayunan pinggul mengandung makna. Gerakan yang lincah melambangkan semangat hidup, tatapan mata dan senyum ramah mencerminkan falsafah “someah hade ka semah” — ramah kepada tamu.

Keseimbangan antara gerak tegas dan lembut menunjukkan filosofi hidup masyarakat Sunda: disiplin namun tetap luwes, ceria namun terkendali.


Menari di Panggung Global

Kini, Jaipong tak hanya tampil di acara adat atau hajatan rakyat. Ia telah berkolaborasi dengan berbagai genre musik modern, dari pop hingga hip-hop.

Meski zaman berubah, para seniman muda memastikan Jaipong tidak kehilangan jiwanya. Upaya pelestarian terus dilakukan melalui sanggar, festival, hingga media digital.

Jaipong bukan lagi sekadar hiburan, melainkan identitas. Dari yang dulu dicibir sebagai “vulgar”, kini ia menjadi simbol kebanggaan dan keteguhan budaya Sunda di tengah arus globalisasi.

Tetap Hidup di Era Modern

Kini, Jaipong tidak hanya hadir di panggung-panggung tradisional, tetapi juga telah menembus dunia modern. Para seniman muda kerap menggabungkannya dengan musik elektronik, pop, hingga hip-hop tanpa menghilangkan esensi budaya yang dikandungnya.

Tantangan terbesar bagi Jaipong hari ini adalah menjaga keaslian dan ruhnya agar tidak sekadar menjadi tontonan eksotis. Berkat upaya pelestarian dari berbagai komunitas seni dan dukungan generasi muda, Jaipong terus bertahan dan berevolusi.

Dari yang dulu dicibir karena dianggap “vulgar”, kini Jaipong berdiri tegak sebagai ikon kebanggaan budaya Sunda — menari lincah di antara tradisi dan modernitas, tanpa kehilangan jati dirinya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *