Apa kabar Selat Hormuz? Pertanyaan ini muncul setelah pecahnya konflik antara gabungan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Status selat strategis tersebut pun menjadi perhatian dunia. Banyak pihak khawatir bahwa Iran akan menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap perang yang terjadi.
Seperti diketahui, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar 20–30 persen pasokan minyak global melewati selat ini. Dengan demikian, sebagian besar distribusi energi dunia sangat bergantung pada jalur tersebut.
Sempat beredar video yang memperlihatkan dugaan pemblokiran Selat Hormuz oleh otoritas Iran. Jika benar-benar ditutup, langkah tersebut bukan hanya berpotensi meningkatkan eskalasi militer, tetapi juga dapat mengguncang stabilitas ekonomi internasional.
Di antara berbagai jalur laut strategis dunia, Selat Hormuz menempati posisi yang hampir tidak tergantikan. Selat ini menjadi satu-satunya pintu keluar-masuk dari Teluk Persia menuju Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geografis, wilayah ini bukan sekadar perairan sempit yang memisahkan dua daratan, tetapi juga menjadi urat nadi yang menghubungkan ladang-ladang energi terbesar dunia dengan pasar internasional.
Kekhawatiran dunia semakin meningkat seiring beredarnya berbagai informasi mengenai kemungkinan penutupan selat tersebut. Namun hal ini dibantah oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Ia menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional.
“Selat Hormuz tidak ditutup. Selat Hormuz tetap terbuka, dan kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan,” kata Dubes Boroujerdi saat ditemui awak media di kediamannya di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa kapal-kapal yang mematuhi protokol keamanan tetap dapat melintas tanpa hambatan di jalur tersebut.
“Di selat ini hanya diberlakukan protokol lalu lintas khusus untuk situasi perang. Pihak-pihak yang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati Selat Hormuz,” jelasnya.
Menurut Boroujerdi, penerapan protokol keamanan tersebut bertujuan menjaga stabilitas dan keselamatan pelayaran di tengah situasi konflik. Ia juga menegaskan bahwa keamanan di jalur strategis tersebut berlaku bagi semua negara tanpa pengecualian.










