Di Balik Proyek Geothermal Gunung Gede: Trauma Gempa, Intimidasi, dan Ancaman Ekologi

banner 468x60

Apa Kabar Proyek Geothermal?

Proyek geothermal yang berlokasi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Bogor, memicu penolakan keras dari warga Jawa Barat, khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Gede Pangrango. Gelombang protes bermunculan. Warga ramai-ramai membentangkan spanduk sebagai bentuk penolakan terhadap proyek tersebut. Bahkan, aksi demonstrasi yang dilakukan warga Cianjur sempat berujung kericuhan.

Mengapa warga begitu marah dan menentang keras proyek yang digadang-gadang akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat ini?

Penolakan tersebut bukan tanpa alasan. Salah satu kekhawatiran utama warga adalah risiko terjadinya gempa bumi akibat aktivitas pengeboran panas bumi. Trauma warga Cianjur dan sekitarnya terhadap gempa besar beberapa tahun lalu masih sangat membekas.

Dilansir dari detikX, warga mengeluhkan proyek ini karena menimbulkan rasa tidak aman. Salah satunya adalah Dedet Fatmawati (43), warga Kampung Pasir Cina, Desa Cipendawa. Ia mengaku trauma gempa Cianjur tahun 2023 yang meluluhlantakkan rumah-rumah warga, sehingga penolakannya terhadap proyek geothermal semakin kuat.

Setiap malam, getaran dari truk pengangkut sayuran saja sudah cukup membuat rumahnya bergetar.

“Kaca rumah sudah goyang. Apalagi kalau nanti truk proyek yang jauh lebih besar lewat, rumah saya bisa hancur,” ujar Dedet kepada detikX pada Selasa, 24 Desember 2024.

Selain itu, warga juga mengaku bahwa aksi penolakan mereka mendapat respons intimidatif. Pihak perusahaan penambang, PT Daya Mas Geopatra Pangrango—anak perusahaan Grup Sinar Mas—bersama pemerintah daerah dinilai terus menekan warga agar menerima proyek tersebut.

Di sisi lain, pemerintah selalu mengklaim bahwa proyek ini akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Lalu, sebenarnya apa keuntungan dari proyek geothermal ini?

Geothermal merupakan sumber energi terbarukan yang dianggap penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar, dan pemerintah berencana mengembangkan potensi tersebut untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Salah satu lokasi yang ditargetkan adalah kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Potensi panas bumi di wilayah PSPE Cipanas diperkirakan mencapai 85 MW, dengan rencana pengembangan PLTP Cipanas sebesar 55 MW. PLTP ini ditargetkan beroperasi secara komersial pada tahun 2030. Dengan asumsi satu rumah tangga menggunakan daya listrik 900 watt, PLTP Cipanas diperkirakan mampu memasok listrik bagi sekitar 61 ribu kepala keluarga. Selain itu, proyek ini diklaim dapat menciptakan lapangan kerja lokal, meningkatkan pendapatan daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi regional.

Namun, muncul pertanyaan besar: apakah keuntungan tersebut sepadan dengan kerugian dan dampak lingkungan yang ditimbulkan?

Kehadiran proyek geothermal di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berpotensi menimbulkan dampak buruk yang signifikan. Hutan merupakan penyimpan karbon terbesar sekaligus habitat bagi keanekaragaman hayati, sehingga keberadaannya harus dijaga dan dilestarikan. Taman nasional adalah kawasan perlindungan alam dengan nilai ekologis yang sangat tinggi. Di sisi lain, nilai ekonomi keanekaragaman hayati justru akan terus meningkat seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pembangunan geothermal berisiko merusak ekosistem yang rapuh dan mengancam keberlanjutan lingkungan hidup di sekitarnya. Padahal, masih terdapat alternatif pengembangan energi terbarukan tanpa harus berada di kawasan taman nasional. Dengan kemajuan teknologi, pemanfaatan sumber energi lain seperti energi surya, bayu (angin), hidro, bioenergi, dan energi laut dapat menjadi pilihan yang lebih ramah lingkungan.

Pemerintah seharusnya berkaca pada kejadian di Sumatra. Ketika keseimbangan alam diabaikan, alam dapat bereaksi secara negatif dan memicu bencana bagi manusia. Banjir besar di Sumatra, yang diduga kuat disebabkan oleh deforestasi hutan lindung, menjadi contoh nyata. Keuntungan ekonomi yang hanya dinikmati segelintir pihak tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan. Hingga kini, Sumatra belum sepenuhnya pulih, sementara pemerintah dinilai gagal dan gagap dalam penanganannya.

Jangan sampai hal serupa terjadi di Gunung Gede Pangrango. Taman nasional harus dilindungi agar ekosistem alam tetap terjaga dan manusia terhindar dari malapetaka yang lebih besar di masa depan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *