Bekasi — Dedi Mulyadi menyoroti ancaman serius terhadap keberlangsungan kawasan industri di Jawa Barat apabila kawasan pegunungan mengalami kekeringan. Menurutnya, kawasan industri strategis seperti Bekasi, Karawang, dan Kawasan Rebana berpotensi “mati” jika fungsi ekologis gunung sebagai sumber air tidak lagi terjaga.
Pernyataan tersebut disampaikan Dedi dalam menanggapi maraknya alih fungsi lahan di kawasan hulu, khususnya di wilayah pegunungan yang selama ini menjadi daerah resapan air. Ia menegaskan bahwa gunung bukan sekadar bentang alam, melainkan penopang utama kehidupan ekonomi di wilayah hilir.
“Kalau gunung kering, jangan bicara industri maju. Air itu sumber utama. Bekasi, Karawang, sampai Rebana hidup dari air yang berasal dari kawasan pegunungan,” ujar Dedi.
Menurutnya, kawasan industri di Jawa Barat sangat bergantung pada ketersediaan air bersih untuk operasional pabrik, pembangkit energi, hingga kebutuhan tenaga kerja. Jika daerah hulu rusak akibat penebangan hutan, pertambangan, atau pembangunan yang tidak terkendali, maka krisis air akan menjadi ancaman nyata.
Dedi juga mengingatkan bahwa dampak kekeringan tidak hanya dirasakan oleh sektor industri, tetapi juga masyarakat luas. Krisis air dapat memicu penurunan produksi, pemutusan hubungan kerja, hingga melemahnya daya saing ekonomi daerah.
Ia mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk lebih tegas dalam menjaga kawasan pegunungan, termasuk menertibkan izin-izin yang merusak lingkungan. Menurutnya, pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan ekologi.
“Kalau kita abai hari ini, lima sampai sepuluh tahun ke depan kawasan industri yang kita banggakan bisa kolaps. Gunung harus dijaga kalau kita ingin industri tetap hidup,” pungkasnya.










