Perang antara Iran melawan kolaborasi Amerika Serikat dan Israel telah memasuki hari ke-40. Dalam situasi ini, AS–Israel tampak semakin terpojok. Berbagai upaya telah dikerahkan, namun Iran dinilai berhasil menggagalkan langkah-langkah tersebut.
Setiap ancaman yang dilontarkan Presiden AS, Donald J. Trump, terus mendapat respons dari Iran. Tercatat, sudah delapan kali Trump mengeluarkan ancaman dengan tenggat waktu yang berubah-ubah, terutama terkait Selat Hormuz. Namun, semua itu tampaknya diabaikan oleh Iran.
Terakhir, Trump melalui akun X miliknya mengancam akan “meratakan Iran” jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Meski demikian, Iran tetap bersikap acuh terhadap ancaman tersebut.
Namun, setelah tenggat waktu berlalu, AS tidak juga melancarkan serangan. Justru yang muncul adalah permintaan gencatan senjata dari pihak Amerika melalui perantara Perdana Menteri Pakistan.
Menanggapi hal tersebut, Iran mengajukan 10 syarat jika Amerika ingin berdamai. Berikut poin-poin yang diajukan Iran:
- AS harus berkomitmen untuk menjamin prinsip non-agresi
- Pengakuan atas kontrol berkelanjutan Iran terhadap Selat Hormuz
- Pengakuan hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium
- Pencabutan seluruh sanksi primer
- Pencabutan seluruh sanksi sekunder
- Pembatalan semua resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran
- Pembatalan resolusi Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA)
- Pembayaran kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan terhadap Iran
- Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan
- Penghentian perang di semua front, termasuk terhadap kelompok perlawanan di Lebanon
Pernyataan terkait kemungkinan gencatan senjata disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi. Ia menegaskan bahwa Iran bersedia menerima gencatan senjata dengan syarat Amerika menyetujui seluruh poin yang diajukan.
Dalam pernyataannya, Araghchi juga menyebutkan bahwa jika serangan terhadap Iran dihentikan, maka Angkatan Bersenjata Iran akan menghentikan operasi pertahanan mereka.
Selain itu, selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz dapat dibuka melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran, dengan tetap mempertimbangkan berbagai keterbatasan teknis.










