Anak SD Bunuh Diri Diduga karena Tak Mampu Beli Buku dan Pena — Tamparan Bagi Negara

banner 468x60

Nusa Tenggara Timur (NTT)— Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka setelah seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun berinisial YBS ditemukan meninggal dunia dengan dugaan gantung diri di sebuah pohon di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Peristiwa ini terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026.

Menurut keterangan aparat dan warga setempat, sebelum kejadian, YBS sempat meminta kepada ibunya uang untuk membeli buku tulis dan pena — kebutuhan sekolah yang harga totalnya diperkirakan di bawah Rp 10 000. Namun, sang ibu tidak mampu memenuhi permintaan tersebut karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas.

Surat Wasiat dan Kondisi Korban

Di lokasi kejadian, polisi menemukan sebuah surat yang diduga ditulis oleh korban untuk ibunya. Dalam surat itu, YBS mengekspresikan perpisahan dan meminta sang ibu untuk tidak menangis. Kepolisian Resor Ngada memastikan bahwa tulisan tangan tersebut memang ditulis oleh korban sendiri.

YBS dikenal oleh tetangga dan lingkungan sebagai anak yang pendiam, sopan, serta tekun belajar. Warga sekitar menggambarkan dirinya sebagai murid yang rajin meskipun hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat sederhana.

Reaksi Pemerintah dan DPR

Insiden memilukan ini langsung mendapat perhatian dari berbagai pihak di tingkat nasional:

  • Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan tengah menyelidiki secara mendalam latar belakang tragedi tersebut, termasuk faktor penyebab dan kondisi sosial keluarga korban. Menteri Abdul Mu’ti menyatakan akan menggali lebih jauh sebelum memastikan penyebab utamanya.
  • Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) juga menyampaikan rasa keprihatinan mendalam dan menegaskan perlunya pendampingan serta penguatan data sosial terhadap keluarga kurang mampu.
  • Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarief Muhammad, menyebut kasus ini sebagai alarm keras bagi negara untuk hadir lebih nyata dalam pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan anak-anak, terutama mereka dari keluarga miskin. Ia mendesak adanya investigasi tentang apakah bantuan pendidikan selama ini telah tersalurkan secara tepat sasaran.
  • Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari PDI Perjuangan, MY Esti Wijayati, menambahkan tragedi ini menjadi tamparan keras bagi bangsa, karena menunjukkan masih ada anak-anak yang tidak dapat mengakses kebutuhan belajar paling dasar meskipun pendidikan dasar merupakan hak konstitusional yang wajib dijamin negara.

Tantangan Pendidikan dan Akses Dasar

Kasus YBS memicu diskusi luas tentang kesenjangan akses pendidikan di daerah tertinggal, serta kemampuan pemerintah dalam memastikan tidak ada anak yang terhambat pendidikannya hanya karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah sederhana. Pesan para wakil rakyat menekankan perlunya sistem deteksi dini di sekolah terhadap kondisi ekonomi dan psikososial siswa, serta penyaluran bantuan pendidikan yang lebih efektif.

Tragedi ini sekaligus mengingatkan bahwa di luar faktor ekonomi, kesejahteraan emosional dan dukungan psikologis kepada anak-anak sangat penting untuk mencegah kasus-kasus bunuh diri di kalangan pelajar. Organisasi seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebelumnya telah menyerukan sistem peringatan dini untuk deteksi stres dan tekanan di sekolah.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *