Jakarta, 13 Maret 2026 / 23 Ramadhan 1447 H — Momentum peringatan Hari Al-Quds Internasional tahun ini diwarnai kecaman keras terhadap meningkatnya eskalasi militer di Timur Tengah. Dalam pernyataan resminya, sejumlah elemen masyarakat sipil menegaskan bahwa isu Al-Quds bukan sekadar persoalan regional, melainkan kompas moral global yang menjadi batas antara kemanusiaan dan kebiadaban.
Dalam aksi tersebut, massa menuntut penghentian segera praktik pembersihan etnis di Jalur Gaza, serta mendesak pencabutan blokade total yang dinilai telah menjadikan kelaparan sebagai senjata perang terhadap warga sipil.
Washington Disebut Dalang Utama Konflik
Pernyataan tahun ini juga menyoroti peran Amerika Serikat yang disebut bukan hanya sebagai pendukung, tetapi sebagai pihak yang dianggap berada di balik berbagai konflik di kawasan.
“Tanpa dukungan militer masif dan perlindungan politik dari Washington, rezim pendudukan tidak akan mampu melanjutkan kejahatan kemanusiaan ini. Amerika Serikat memikul tanggung jawab atas krisis di Palestina, Iran, Lebanon hingga Yaman,” ujar perwakilan koalisi dalam keterangan tertulis.
Duka atas Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei
Peringatan tahun ini juga diwarnai suasana duka setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran,
Ali Khamenei, yang menurut pernyataan tersebut gugur akibat agresi militer Amerika Serikat. Tindakan itu dinilai sebagai bentuk provokasi besar terhadap dunia Islam dan para pendukung perjuangan Palestina.
Meski demikian, koalisi menyebut Iran tetap konsisten melanjutkan perjuangan yang diwariskan oleh
Ruhollah Khomeini, yang menjadikan Hari Al-Quds sebagai simbol persatuan kaum tertindas di seluruh dunia.
Kecaman atas Serangan ke Lebanon dan Yaman
Koalisi juga mengecam meluasnya konflik yang kini menyentuh wilayah
Lebanon dan Yaman.
Menurut mereka, serangan terhadap kedua negara tersebut dianggap sebagai serangan terhadap seluruh umat yang mendukung kemerdekaan Palestina.
Selain itu, mereka menyoroti rencana aneksasi di Tepi Barat dan upaya penghapusan identitas Palestina di Yerusalem Timur, yang dinilai melanggar hukum internasional dan harus dihentikan oleh komunitas global.
Seruan Boikot dan Penolakan Normalisasi
Dalam pernyataan sikapnya, massa juga mengajak masyarakat untuk memperkuat tekanan ekonomi melalui gerakan boikot terhadap produk-produk yang dianggap terafiliasi dengan entitas pendudukan.
Koalisi turut mengecam berbagai upaya normalisasi hubungan melalui forum internasional yang dinilai melemahkan perjuangan rakyat Palestina.
Aksi ditutup dengan penegasan bahwa dukungan terhadap kemerdekaan Palestina akan terus disuarakan hingga negara tersebut berdaulat penuh di seluruh wilayahnya.
Tentang Hari Al-Quds Internasional
Hari Al-Quds Internasional diperingati setiap tahun pada Jumat terakhir bulan Ramadhan, sebagai bentuk solidaritas global terhadap rakyat Palestina dan penolakan terhadap pendudukan di tanah Al-Quds.










